Senin, 12 November 2012

Proses Penciptaan Alam Semesta



Proses Penciptaan Menurut Kitab Rgveda
                   Donder (2007) menguraikan bahwa untuk memperoleh jawaban yang benar atas segala sesuatu, maka dalam Hinduisme menggunakan pendekatan strata atau hirarkhi sumber-sumber kebenaran atau strata hukum kebenaran. Adapun strata tersebut sebagaimana diuraikan dalam kitab suci Manawa Dharmasastra II.6, 10, 12, 14 yaitu (1) Sruti (wahyu) yang terdapat dalam Catur Veda; (2) Smrti (tafsir, ingatan); (3) Acara; (4) Sadacara; (5) Atmanastuti. Tunduk pada strata hukum kebenaran tersebut, maka uraian tentang penciptaan dalam buku kosmologi ini juga memulai dengan penelusuran pada mantram-mantram yang terdapat dalam kitab suci Catur Veda. Veda diyakini sebagai nafas-Nya Tuhan dan juga sebagai kata-kata-Nya Tuhan, karena itu maka uraian tentang penciptaan alam semesta ini diyakini berdasarkan kata-kata (sabda, wahyu) Tuhan.
                   Dalam buku karya kompilasi yang berjudul “Ilmu, Etika, dan Agama” (Menyingkap Tabir Alam dan Manusia), Dr. I Made Titib, Ph.D (2006) seorang doktor Vedik dan doktor Kajian Budaya, menulis tentang “Penciptaan Jagat Raya Menurut Hindu dan Tanggapan Terhadap Teori-teori Ilmiah Baru”. Pada karya tersebut Titib menguraikan tentang makna mantram-mantram RgVeda yang dapat dirujuk sebagai konsep dan rumusan dasar dalam memahami proses penciptaan alam semesta berdasarkan Hinduisme (Veda). Titib (2006, 168-169) menterjemahkan beberapa mantram Nasadiyasukta ‘Terjadinya Alam Semesta’ (Rgveda X. 129. 1-7) sebagaimana dapat dilihat dalam uraian berikut ini.

Pada waktu itu, tidak ada makhluk (eksistensi) maupun non makhluk (non eksistensi); pada waktu itu tidak ada atmosfir dan juga tidak ada lengkung langit di luarnya. Pada waktu itu apakah yang menutupi, dan di mana? Apakah air yang tak terduga dalamnya yang ada di sana. (RgVeda X.129.1)

Waktu itu tidak ada kematian, pun juga tidak ada kehidupan (makhluk), tidak ada tanda yang menandakan siang dan malam. Yang Maha Esa bernafas tanpa nafas menurut kekuatannya sendiri. Bernafas menurut kekuatan-Nya sendiri. Diluar dia tidak ada apapun juga. (RgVeda X.129.2)

Pada mula pertama kegelapan ditutupi kegelapan. Semua yang ada ini adalah keterbatasan yang tak dapat dibedakan. Yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tapas (tenaga panas) yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong. (RgVeda X.129.3)

Pada awal mulanya keinginan (Tuhan) menjadi bermanifestasi yang merupakan benih awal dan benih semangat. Para rsi setelah meditasi dalam hatinya menemukan dengan kearifannya hubungan antara eksistensi dan non eksistensi. (RgVeda X.129.4)

Sinarnya terentang keluar, apakah ia melintang, apakah ia di bawah atau di atas. Kemudian ada kemampuan memperbanyak diri dan kekuatan yang luar bisa dahsyatnya, materi gaib ke sini dan energi ke sana. (RgVeda X.129.5)

Siapa yang sungguh-sungguh mengetahui dan memaparkannya di sini, dari manakah datangnya alam semesta yang menjadi ada ini? Orang-orang bijaksana lebih belakang dari ciptaan alam semesta ini, karena itu siapakah yang mengetahui dari mana munculnya (ciptaan) ini. (RgVeda X.129.6)

Sesungguhnya Dia telah menciptakan alam semesta ini, serta mengendalikannya (di dalam kekuasaan-Nya). Dia yang mengawasi alam semesta ini berada di atas angkasa yang tak terhingga, sesungguhnya Dia mengetahui alam semesta ini seluruhnya dan “wahai manusia” janganlah mengakui eksistensi lain yang mana pun sebagai Pencipta alam semesta ini. (RgVeda X.129.7)
                   Selain tujuh mantram tersebut di atas, Titib (2006: 169-170) juga menunjuk mantram lainnya yang dapat memberikan petunjuk atau informasi tentang siapa, dengan apa, dan bagaimana proses penciptaan alam semesta ini dapat terwujud. Hal tersebut dapat dilihat pada mantram berikut :

Tuhan Maha pencipta, yang memancarkan cahaya-Nya dalam berbagai wujud, dan yang selalu menganugerahkan kebajikan kepada semua ciptaan-Nya. Yang Maha Bercahaya menerangi jagat raya, sorga, dan selalu bercahaya di luar Fajar.(Rgveda V.81.2).

Segala sesuatu merupakan ekspresi pancaran dari segala cahaya. Ia yang muncul dari keadaan Gelap (malam Brahma). Ia yang sangat mengagumkan, Ia yang membentang sangat jauh dan mengejawantahkan diri- Nya.(Rgveda III.26.7).

                   Selanjutnya Titib (2006: 170) mengutip pendapat Reddy, bahwa di dalam Rgveda 1.113.1 dinyatakan alam semesta sebagai Wujud Yang Agung (Supreme Form). Hal tersebut merujuk kepada tiga kondisi yang Maha Suci, yaitu ; status caratham, jagatas tasthustas, dan amrtam, yakni (1) yang tidak bergerak dan kekal abadi dan yang berubah-ubah, (2) yang tidak terbatas dan yang terbatas, dan (3) yang hidup abadi dan fana. Selanjutnya Titib memberikan deskripsi lebih luas melalui argumentasi yang merujuk pada mantram Rgveda X.190.1 sebagai mana uraiannya bahwa; kekuatan aktif yang bersinar terang benderang merupakan kuasa Tuhan Yang Maha Esa, bermanifestasi melalui hukum-Nya yang abadi, tercipta bersama dengan kuasa material alam semesta, dari sana malam (sesudah alam penciptaan berlangsung) maka alam semesta terwujud. Dari sana pula samudera atmosfir yang mengandung prinsip-prinsip kosmik menjadi terwujud. Berdasarkan uraian diatas dapat dinyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa melalui kekuatan tapas-Nya memancarkan energi (cahaya) dari kegelapan yang pekat dan kosong, kemudian atas kehendak-Nya berlangsung proses penciptaan yang berasal dari energi atau cahaya-Nya yang maha dahsyat itu.
                   Selain uraian diatas, lebih jauh tentang proses penciptaan alam semesta (Titib, 2006: 170-171) menunjuk 16 mantram yang dapat memberi petunjuk tentang bagaimana Veda mendeskripsikan tentang penciptaan alam semesta ini, mantram-mantram tersebut adalah mantram Rgveda X.90.1-16, yang bunyinya sebagai berikut:

“Purusa (Manusia Kosmos) berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, memenuhi jagat raya, pada semua arah, mengisi seluruh angkasa (1)’

“Sesungguhnya Purusa adalah semua ini, semua yang ada sekarang dan yang akan datang, Dia adalah raja keabadian yang terus membesar dengan makanan (2)’

“Demikian hebat kebenaran-Nya, dan Purusa bahkan lebih besar dari ini. Semua wujud ini adalah ¼ (seperemat) dari diri-Nya , ¾ (tiga perempat) lagi adalah keabadian ada di sorga (3)’

“Tiga perempat (3/4) dari purusa pergi membumbung jauh, seperempat (1/4) lagi berada di alam ini yang berproses terus-menerus berselang-seling dalam berbagai wujud yang bernyawa dan yang tidak bernyawa (4)’

“Dari Dia Viraj ( Dia Yang Bercahaya ) lahir dan dari Viraj Dia kembali. Segera setelah Dia lahir Dia mengembang ke seluruh penjuru, mengembang mengatasi alam semesta (5)’

“Ketika para Dewa mengadakan upacara korban dengan Purusa sebagai persembahan, maka minyaknya adalah musim semi, kayu bakarnya adalah musim panas, dan sajian persembahanya adalah musim gugur (6)’

“Mereka mengorbankan sebagian korban pada rumput, Purusa yang lahir pada awal kejadian alam semesta. Pada Dia para dewa dan semua sadhya dan para resi mempersembahkan korban (7)’

“Dari korban Purusa dipersembahkan keluarlah dadih dan mentega yang sudah bercampur. Kemudian Dia jadikan binatang-binatang yang padanya berbeda. Baik binatang buas maupun binatang yang jinak (8)’

“Dari korban Purusa yang dipersembahkan, Rk (Rgveda) dan Sama (Samaveda) muncul. Dari Dia lahirkah metrik, dari Dia lahirlah Yajus (Yayurveda) (9)’

“Dari Dia lahirlah kuda dan binatang apa saja yang mempunyai gigi dua baris. Kemudian sapi lahir dari Dia, dari Dia pula lahirnya kambing dan biri-biri (10)’

“Ketika mereka (para Dewa) menjadikan Purusa sebagiankah dia ? Dan apakah mereka sebut (diberikan nama) pada kaki-Nya (11)’

“Dari mulut-Nya muncul Brahmana, dari lengan-Nya muncul Rajanya (Ksatriya), dari paha-Nya muncul Vaisya dan Sudra muncul dari kaki-Nya (12)’

“Bulan muncul dari pikiran-Nya, matahari muncul dari mata-Nya, Indra dan Dewa Agni muncul dari mulut-Nya, dan Dewa Vayu muncul nafas-Nya (13)’

“Dari pusat-Nya cakrawala ini muncul, dari kepala-Nya muncul langit, dari kaki-Nya muncul bumi, dari telinga-Nya lahir keempat penjuru mata angin, demikianlah Dia membentuk alam semesta ini (14)’

“Tujuh pagar kelilingnya upacara korban, tiga kali enam potong kayu bakar disiapkan, ketika para Dewa mempersembahkan upacara itu yang menjadikan Purusa sebagai korban (15)’

“Dewa-dewa dengan mengadakan upacara korban memuja Dia (Manusia Kosmos) yang juga merupakan upacara korban itu. Dia Yang Agung mencapai sorga yang mulia tempat para Sadhya, Dewa-dewa zaman dahulu (16)’

                   Titib (2006: 172) mengakhiri rujukan srutiya dengan menghadiri mantram berikut; ‘pada awalnya terlahirlah Hiranyagarbha, Dia yang demikian menunjukkan eksistensi-Nya menjadi raja dari semua makhluk, Dia yang menyangga bumi dan sorga ( regveda X.121.1).
                   Jika saja para ilmuwan bersikap jujur, maka para ilmuwan tidak dapat berkelid atas uraian mantram-mantram di atas bahwa Veda memiliki deskripsi yang maha luas tentang segala hal. Pantaslah Prof. Carl Sagan seorang kosmolog terkenal di dunia memberikan pujian atau penghormatan yang sedemikian mendalamnya kepada Veda dan Hinduisme. Semua benih gagasan kosmologi modern lahir dari Veda. Hal ini membuktikan bahwa Agama Hindu bukan sebuah dogma juga bukan apologi. Semua tindakan atau aktivitas Umat Hindu memiliki sumber rujukan yang komperensip.
                   Bila dicermati bunyi mantram Rgveda X.90.14 di atas dapat diyakini bahwa mantram tersebutlah yang menjadi cikal-bakal adanya istilah pemujaan kepada kaki (pada) Tuhan, dan memohon cucian air dari kaki Tuhan (wangsuh pada), juga pemujaan pada prthivi atau bumi. Dengan demikian bentuk pemujaan dalam Hinduisme memiliki landasan yang komprehensip. Demikian pula jika diperhatikan bunyi mantram Rgveda X.90.15 pada kalimat “tiga kali enam” potong kayu, hal ini mengisyaratkan tentang adanya suatu bilangan sakral yakni (3x6 =18), bilangan ini jika dijumlah dengan deret jumlah menjadi 1+8=9, suatu simbol angka (bilangan) sakral yakni jumlah sembilan Dewa Nawasanga yang menguasai setiap arah mata angin.
                   Dari uraian mantram-mantram di atas, maka dapat diketahui bahwa Kosmologi Hindu memiliki pijakan yang valid karena bersumber dari sruti atau wahyu. Walaupun sesungguhnya mantram-mantram di atas sudah sangat memadai untuk menggambarkan tentang keberadaan dan proses keberadaan alam semesta ini, namun untuk memberikan keyakinan yang mantap dan pantas kepada para pembaca, maka masih ditampilkan pula berbagai rujukan dari kitab-kitab pendukung Veda.     
Kesimpulan
                   Sebelum terciptakannya alam semesta ini, tidak ada apa-apa. Sebelum alam semesta diciptakan hanya Sang Hyang Widhi yang ada, Maha Esa dan tidak ada duanya. Alam semesta yang diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa merupakan wujud pancaran kemahakuasaan-Nya. Wibhuti adalah pancaran kemahakuasaan beliau melalui tapa. Tapa adalah pemusatan tenaga pikiran yang terkeram sehingga menimbulkan panas yang memancar. Dengan tapa, beliau menciptakan alam semesta ini beserta dengan isinya. Penciptaan ini terjadi secara bertahap, dari unsur yang sangat halus menjadi wujud yang keras dan kasar. Setelah semuanya ini tercipta, ke dalam ciptaan-Nya itulah beliau meresap menjadi satu. 

3 komentar: